Rabu, 21 Maret 2018


Aku Berhenti Mengagumimu
By;andigrow
Kamu yang pernah aku kagumi,
Dengarkan aku yang tak penting ini,
Sebab rasa kagumku yang berlebihan menjadikan kekecewaan yang begitu sangat memalukan di hadapan
Allah SWT,
Aku pernah diam-diam menaruh rasa kepaadamu,
Melupakan dia yang semestinya aku dahulukan dari apapun,
Aku pernah diam-diam mendoakanmu,
Melupakan kedua orang tuaku yang harusnya aku utamakan  di hidupku,
Aku pernah diam-diam mengagumi,
Menjadikanmu sebagai sosok yang aku impikan untuk hidup bersamaku,
Namun, kekecewaan kini menghampiriku,
Aku berhenti untuk semua tentangmu,
Memberikan perhatian yang dulu pernah ada,
Tersadar bagiku itu sebagai kebodohan yang tak pantas aku lakukan,
Allah lebih perhatian kepadaku lewat rasa kecewa ini,
Karena, ternyata berharap kepada manusia itu lebih menyakitkan,
Kini
Tidak lagi kau temukan aku yang kemarin pernah perhatian lebih kepadamu,
Lalu menghantarkanku pada dosa,
Allah memberikan rasa kecewa ini agar aku menyimpulkan bahwa mengagumimu yang menurutku baik
belum tentu baik menurut-Nya,
Mengagumimu diam-diam semakin membuatku sakit,
Karena takkan pernah kau sadari tentang keberadaamu selama ini,
Tak mengapa aku hentikan semua perasaan ini karena aku yakin Allah nantinya,
Akan mendatangkan yang jauh lebih baik darimu,
Jika aku mampu bersabar dalam taat

Selasa, 13 Desember 2016

lebih indah



Lebih Indah
By: andigrow
Saatku tenggelam dalam sendu.. Waktupun enggan untuk berlalu.. Kuberjanji tuk menutup pintu hatiku.. Entah tuk siapapun itu..” Ya, lagu Lebih Indah-nya adalah satu-satunya lagu yang masih menemaniku duduk diambang pintu sore itu. Matahari sudah semakin samar terlihat. Dan aku masih terdiam menghayati syair demi syairnya. Di balik pagar terlihat anak-anak berlari-lari dengan riangnya tak membuyarkan pikiranku yang terhanyut dalam lagu itu. Lagu yang pas banget buat suasana hatiku saat ini. Aku, seorang cewek yang tertatih terlalu lelah mengagumi seseorang yang aku tau dia tidak pernah mencintaiku. Sedikitpun . Pada akhirnya aku merasa lelah. Aku lelah. Dan aku memilih ikhlas untuk melepaskannya. Melepaskan dia dari kehidupanku. Aku pun juga merasa kapok untuk memikirkan seorang cowok. Mereka itu jahat pikirku.
Semakin ku lihat masa lalu.. Semakin hatiku tak menentu.. Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku.. Saat ku melihat senyummu” Aku masih terhanyut dalam setiap kata perbait lagu itu. Yah begitulah seisi hatiku. Semakin aku lihat masa laluku, aku semakin sakit. Aku semakin terlihat rapuh. Aku tidak mau menyia-nyiakan air mataku ini dan tentunya hidupku. Aku harus membuktikan kalau aku bisa lebih bahagia walaupun tanpa si dia. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang bisa membuatku merasa teduh dan nyaman. Biarpun rasa itu terasa saat aku hanya melihat dia dari kejauhan. Aku khawatir aku jatuh hati lagi.
 Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku saat ku melihat senyummu.. Dan kau hadir merubah segalanya.. Menjadi lebih indah”. Dan pada akhirnya aku benar-benar jatuh hati sama dia. Dia benat-benar bisa menjadi moodboster buat hari-hariku. Dia Tejo. Seseorang yang bisa merubah hidupku menjadi lebih baik. Memunculkan kembali setiap warna-warna indah di hidupku yang sudah sekian lama memudar.
Singkat cerita dia menjadi pacarku saat ini. Rasanya percaya tidak percaya. Seseorang yang bisa menjadi pujaan hatiku, yang rasanya bagaimana bisa aku mengenal dia, kita tak sedikitpun saling mengenal dan bersama. Dan sekarang dia lah seorang yang begitu berarti dalam hidupku. Seseorang yang sangat aku sayangi tulus dari dasar hatiku. Dia mampu membuatku menjadi lebih baik, dia yang selalu sabar dengan sikap-sikapku yang kadang kuakui kekanak-kanakan untuk ukuran anak seusiaku. Betapa bersyukurnya hatiku saat aku benar-benar menyadari bahwa dia juga menyayangiku. Hari hari hitam putihku kulalui bersamanya bahkan keluargaku pun juga menyayanginya.
“ Kau bawa cintaku setinggi angkasa membuatku merasa sempurna.. Dan membuatku utuh, tuk menjalani hidup.. Berdua denganmu selama-lamanya.. Kaulah yang terakhir bagiku” Dan itulah bait terakhir yang terdengar sore itu. Tak terasa air mata menetes di pipiku. Betapa kita harus mensyukuri apapun kehendak Tuhan dan kita harus selalu ikhlas atas segala karuniaNya, karena pasti akan ada hal indah yang akan kita dapatkan walaupun itu tak pernah dipikirkan oleh kita sebelumnya. “ Thanks God”


VIJF
By: andigrow

Vijf. Lima. Angka yang mempertemukan dan memisahkan kita. Angka yang membuatku bahagia dan bersedih di satu masa. Aku masih mendengar suara Glenn Fredly melantunkan lagu itu dari laptopku. Berulang-ulang, sudah lima kali kukira. Ya, hanya ini yang menjadi penyemangat hidupku saat ini. Perpisahan mendadak setelah pertemuan singkat.
“ Tuhan bila masih kudiberi kesempatan. Izinkan aku untuk mencintanya. Namun bila waktuku telah habis dengannya, biar cinta...”
Kali ini aku ikut bernyanyi, mencoba meresapi setiap kata dalam bait itu, juga mencoba mengatakan pada diriku, pada jiwaku bahwa dia telah pergi. Pergi untuk selamanya . Dia Chika, seorang cewek pecinta alam yang telah menjadi sahabat hatiku lima bulan ini. Dan aku, Andhika. Orang-orang memanggilku Dhika. Hanya Chika yang memanggilku And, dia pikir Dhika lebih terdengar seperti nama seorang cewek. Pikiranku menerawang, mencoba mengurai kembali memori indah saat pertama kali bertemu dengannya. Dia itu bisa dibilang sahabat masa kecilku, aku pertama kali bertemu dengannya di suatu kursus menggambar saat kami baru kelas lima sekolah dasar. Aku tak terlalu pintar menggambar, tapi aku bercita-cita menjadi seorang Arsitek, oleh sebab itu aku mengikuti kursus ini. Aku tak begitu mengenalnya, tetapi sejak pertama kali bertemu, aku tertarik padanya. Mungkin karena dia satu-satunya cewek yang mengikuti kursus ini, tak lebih dari itu. Kalau dilihat dari wajahnya, dia pasti tipe cewek yang usil plus slengekan. Dan tebakanku benar. Menjadi satu-satunya cewek di kelas itu, dia bukannya jadi pendiam tapi malah sok jadi tuan puteri yang ingin dihormati dan dihargai. Dia mengungkapkan hal-hal yang tidak penting saat guru kami menerangkan bagaimana cara menggambar tubuh manusia, Dan masih banyak lagi sederet keanehan-keanehannya. Masa kursus kami berakhir. Kami akhirnya berpisah. Setelah itu aku tak pernah melihatnya lagi selama lima tahun.
Lima tahun setelahnya, saat mengikuti pendaftaran di SMA Pelita Harapan, aku melihatnya. Aku melihat dia berdiri diantara kerumunan siswa yang mengantri di loket pendaftaran. Dia sangat terlihat berbeda. Lebih tinggi, lebih cantik, lebih terlihat seperti seorang cewek yang sedang melewati masa pubertas dibanding cewek ingusan yang kutemui lima tahun lalu. Aku senang bisa bertemu dengannya, meski mungkin dia sudah tak mengenaliku. Tiba-tiba dia menoleh, kulemparkan senyum tipisku. Dan reaksinya sungguh mengejutkan, dia membalasku dengan ekspresi seolah-olah mengatakan “ siapa kau?”. Wah ternyata dia sudah lupa padaku.

Sebulan kemudian kami dinyatakan lulus kriteria menjadi murid SMA Pelita Harapan. Dan secara kebetulan kami ditempatkan di kelas yang sama yaitu kelas Sepuluh B.
“ Heiii, kamu yang ikut kursus menggambar, namamu Andhika kan?” suara itu mengejutkanku. Aku menoleh,
“ Ya ada apa? Ku kira kau sudah tak mengenaliku!” jawabku ketus
“ Hahaha,, awalnya memang seperti itu, tapi aku masih cukup hafal wajahmu. Aku hanya terkejut, ternyata kau bisa kurus juga ya..”
“ Eh, apa maksudmu?’ ternyata sifat usil plus slengekan belum hilang juga ya ckckck,
“ Kamu dulu gendut” Katanya sambil menggembungkan pipi, menyamai pipiku yang lumayan tembem
“ Biarin, itu bukan urusanmu” Kataku sambil berlari jauh
“ Iihh galak bener” sayup-sayupku dengar Chika meneriakiku
Semenjak kejadian menyebalkan itu kami menjadi semakin akrab. Dia suka mengejek dan aku pantas menjadi objek ejekan. Ya klop deh!. Aku menyukai dia sebagai seorang sahabat , tak pernah sekalipun aku berharap menjadi kekasihnya. Tetapi sesuatu telah terjadi, Tuhan telah menggambarkan hidupku jauh lebih mengejutkan daripada yang kubayangkan. Sebuah kejutan indah. Suatu hari dia menyatakan perasaannya kepadaku. 5 Mei 2005 menjadi saksi bisu akan cinta yang baru saja merekah. Lewat sepucuk memo di lokerku, dia menumpahkan seluruh isi hatinya.
            “ Dear And
Kelas lima sekolah dasar kita dipertemukan, setelah lima tahun berpisah, takdir membawamu kembali padaku. Sekarang di tanggal 5 bulan 5 ini aku berikrar bahwa aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Minimal, aku tak akan membiarkanmu pergi dari hidupku lagi. Ikhou van jou, And. Aku berharap kita akan bersama selama-lamanya.”
Aku sangat bahagia saat itu. Dari dulu aku sudah tertarik padanya, tapi baru akhir-akhir ini aku menyadari itu cinta. Aku berbalik. Begitu terkejut mengetahui bahwa ternyata dia dibelakangku. “Ya!”, jawabku pelan. Dan dia membalasnya dengan senyum termanis yang pernah dia berikan padaku.
Terhitung 4 bulan 27 hari aku menjadi kekasihnya. Hari-hariku diisi dengan penuh kebahagiaan, penuh dengan ucapan bersyukur akan pemberian sahabat hati yang sangat mengerti.
            “ Saying I Love You is not the words I want to hear from you. Is no thing I want you  not to say but if you only knew”
Dia menyanyikan lagu yang dipopulerkan westlife untukku
            “ Mantap plus gombal!!” sahutku
            “ Enggak kok. Eh tanggal 3 besok aku mau mendaki ke merbabu. Doakan aku yaa”
            “ Merbabu? Oh okey, tak perlu kau minta pasti sudah aku doakan”
            Ikhou van jou, And....”
Hari ini 5 Oktober, aku sangat cemas. Chika harusnya sudah tiba dari merbabu sore ini. Tapi ini hampir tengah malam dan belum ada kabar dari timnya itu. Kami, teman-teman dan orang tua tim pendaki menunggu cemas di depan gerbang sekolah. Tiba-tiba ambulan datang, seorang perawat bertanya keras
            “ Siapa kerabat Chika Nur Alfihusna?”
Aku terkejut. Aku dan orang tua Chika mendekat ke ambulan itu. Perawat yang tampak letih itu berjalan membuka pintu ambulan.” Chika jatuh dari tebing, kepalanya terbentur. Maaf putri anda tidak tertolong”. Kulihat tubuh kaku Chika. Dadaku sesak, aku bahkan tidak bisa menangis. Tiba-tiba semua menjadi gelap. Setelah itu aku tak ingat apa-apa.
Aku tersentak kembali ke kehidupanku sekarang. Lima hari setelah kematian Chika dan melupakannya masih tampak begitu mustahil bagiku. Angin hangat tiba-tiba  berhembus, membawa wewangian harum, menerbangkan sekuntum bunga liar kepadaku. Iseng kuhitung kelopaknya. Ada 5.” Vijf, Ikhou van jou, Chika”, bisikku pelan.



Selasa, 11 Oktober 2016

Senja yang sia



Sinar senja mulai menampakan dirinya, membuat semua yang diterpanya  berwarna merah menyala. Semuanya, tak terkecuali mataku. Mataku merah, jantungku berdegup kencang. Ku hirup dalam-dalam  aroma kebranian yang meledak-ledak. Betapa banyak orang yang jatuh cinta pada senja. Banyak tapi tidak termasuk aku
Aku termenung dalam sebuah tempat. Ditemani oleh nyanyian burung serta di hibur oleh tiupan angin yang berhembus dari timur menuju barat. Kukeluarkan seluring bambuku. Kutiup seruling itu dengan penuh penghayatan. Seruling bambu itu menghipnotis setiap makhluk yang mendengarkannya. Tak seorang pun dapat menolak keindahan nada seruling itu.
Sesosok perempuan berkerudung hijau  kulihat duduk meknimati nada-nada dari seruling yang kutiup. Aku menghampiri dia dan kemudian mengajak dia berkenalan.
            “ Selamat senja wahai penikmat kesendirian” sapaku dengan halus
            “ Selamat senja kembali”
            “ Bolehkah aku mengetahui namamu?” sambil ku ulurkan tanganku
            “ Fierda”
            “ Mengapa kau ada disini? Sebelumnya aku tak pernah melihat ada orang yang ke tempat
               Kecuali aku”
             Iya memang betul itu. Aku kesini untuk menyejukan pikiranku yang tengah keruh oleh    suatu hal yang membuat diriku menjadi sedih. Bolehkah aku bercerita sesuatu kepadamu? Dengan muka yang berkaca-kaca
            “ Silahkan, Curahkan segala masalahmu kepadaku. Sudah biasa diri ini menjadi tempat untuk curhat dan semoga setelah kau ceritakan masalahmu kepadaku kau bisa agak sedikit bahagia.”
            “ Okey.cerita ini kumulai dengan seorang sahabat dekatku”
Beberpa hari yang lalu. Aku dan sahabatku yang bernama Jannat pergi mengujungi sebuah perbukitan yang letaknya tak jauh dari rumahku. kami pergi pada siang hari. Kami bermain permainan yang dulu kami lakukan waktu masih berumur 5 tahun. Tawa bahagia keluar dari mulut kami berdua. Setelah sekian lama kami tak berjumpa karena di pisahkan oleh jarak.
            Senja mulai menghampiri kami berdua. Jannat mengeluarkan biola dari tasnya. Sudah lama aku tak mendengar gesekan biola dari jannat. Dia memainkan biola dengan nada-nada yang indah. Mendengarkan nada yang indah dari gesekan biola jannat, membuat hati kami menjadi lebih bahagia.
Gerimis mulai membasahi tubuh kami. Sudah lama tak bermain dengan hujan. Hujan yang membuat pikiran kami lebih segar. Waktulah yang berkuasa, membuat kami harus meninggalkan suasana yang tengah bahagia. Salahkan saja waktu. Kenapa ia membunuh senja dan menggantikannya dengan malam. Jika kalian menginginkan malam yang panjang dan bergairah maka bersahabatlah dengan waktu.
                                                                             ***
Sinar sang surya membangunkan kami. Membangunkan dari indahnya bunga tidur. Bunga yang hanya ada ketika malam datang. Setelah bangun kami langsung melanjutkan petualang yang belum sempat kami selesaikan kemarin, karena waktulah yang berkuasa. Petualangan kali ini kami mulai di pinggir danau, untuk melihat sebuah pertunjukan. Pertunjukan yang ditayangkan langsung oleh sang pencipta. Pertunjukan tanpa sebuah iklan dan hanya berlangsung singkat.
Pertunjukkan jatuhnya meteor ke bumi. Informasi tersebut kami dapatkan dari berita di Koran bahwa ada komet yang akan jatuh kebumi pada hari ini. Sambil menunggu pertunjukkan mulai, Jannat memainkan biolanya. Jannat memainkan biolanya dengan nada yang menyenangkan. Membuat kami semangat untuk melihat pertunjukkan jatuhnya meteor kebumi.
Suara gemuruh tiba-tiba mengalahkan suara gesekan bioala dari jannat. kami melihat jatuhnya komet. Mereka seperti lomba lari, saling mendahului untuk sampai ke daratan bumi. Kemudian Jannat berlari menuju sebuah bukit. Mengikuti alur dari jatuhnya meteor. Diatas bukit jannat memainkan biolannya. Aku menikmati setap gesekan suara biola yang dimainkan oleh jannat sembari mendengarkan suara gemuruh dadri langit yang membawa meteor menuju bumi.
Setelah beberapa detik aku menikmati suara gesekan biola jannat. Tak kudengar lagi suara itu dan aku pun tak melihat lagi jannat dari kejauhan. Kemudian aku langsung menuju atas bukit dan melihat sebuah keadaan yang membuat ku tercengang. Yaitu jannat telah berlumuran darah. Jannat jatuh disamping bukit dengan sebuah meteor menancap kepalanya. Jannat terkena serpihan meteor. Meteor yang seharusnya kami lihat bersama-sama. Meteor itu malah membuat sahabatku jannat pergi untuk selama-lamanya.
Kejadian yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Takdir memang tak bisa dilawan. Semua hanya bisa berikhtiar.. Kini satu-satunya sahabatku telah tiada. Rasa sedih kini menyelimuti hatiku.. Tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa merenungi nasib yang sudah menjadi bubur. Dan untuk menenangkan pikiran dan hati yang sedang kelabu, aku menghabiskan waktu senjaku di tempat ini
                                                                          ***.
Setelah Fierda menceritakan masalahnya. Aku mengetahu bahwa masalahnya adalah kesedihan. Sahabat yang disayang harus pergi ke tempat yang lebih tenang. Kesedihan tak dapat kita hindari. Maut juga tak dapat dihindari. Maka dari itu kita harus meningkatkan iman dan taqwa kita kepada sang pencipta. Dengan meningkatkan itu semua maka kita akan menjadi orang-orang yang berada di jalan yang lurus. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin serta beramal shaleh adalah suatu akhlak yang baik dan terpuji.
                                                                        Semarang, 04 Oktober 2016